Baru sekarang sadar kalau bangunan yang ditunjukkan driver pedicab-ku waktu keliling Central Park ternyata adalah The Dakota, apartemen ikonik tempat John Lennon tinggal.
Oktober 2024, saat solo trip ke New York, aku menyempatkan diri jalan-jalan ke Central Park. Awalnya aku ingin menyewa sepeda supaya bisa lebih leluasa berkeliling taman. Sayangnya, tempat rental yang aku datangi meminta deposit yang menurutku cukup besar, kalau tidak salah sekitar USD 100-an , atau harus meninggalkan paspor sebagai jaminan. Karena aku kurang nyaman meninggalkan paspor, akhirnya aku mencari alternatif lain.
Setelah bertanya-tanya, aku menemukan layanan pedicab. Jujur saja, aku sempat kaget ketika mendengar tarifnya sekitar USD 100-an per jam. Waduh…Mahal juga ya, haha
Saat itu aku sempat berbincang dengan seseorang yang seingatku berasal dari Tajikistan atau Kazakhstan, meskipun sekarang aku sudah agak lupa. Dari beliau, aku kemudian dikenalkan kepada temannya yang menjadi driver pedicabku.
Driver tersebut adalah seorang Muslim asal Afrika yang sudah bertahun-tahun tinggal di New York City, kalau tidak salah ingat, di Bronx. Masya Allah, beliau baik sekali. Selama perjalanan kami banyak mengobrol tentang kehidupan di New York City, pekerjaannya, dan pengalaman beliau tinggal di sana. Perjalanan yang awalnya hanya ingin sekadar keliling taman jadi terasa jauh lebih menyenangkan karena keramahan dan cerita-cerita yang beliau bagikan.
Di tengah perjalanan, beliau sempat menunjuk sebuah bangunan di dekat Central Park dan mengatakan bahwa itu adalah apartemen tempat John Lennon tinggal. Saat itu aku hanya mengangguk karena tidak terlalu paham dan tidak benar-benar memperhatikan. Fokusku mungkin lebih ke menikmati suasana taman dan mendengarkan cerita beliau.

Baru sekarang, setelah melihat kembali foto-foto lama dan membaca beberapa informasi tentang New York, aku sadar bahwa bangunan yang dimaksud adalah The Dakota, salah satu apartemen paling terkenal di Manhattan. Bangunan bersejarah ini memang dikenal sebagai tempat tinggal John Lennon bersama Yoko Ono.
Lucunya, saat berada di sana, aku sama sekali tidak menyadari betapa ikoniknya tempat itu. Kadang saat traveling, kita justru baru menghargai sebuah momen setelah perjalanan selesai dan menjadi kenangan.
Yang paling aku ingat dari hari itu bukan hanya The Dakota atau Central Park, tetapi juga pertemuanku dengan seorang driver pedicab yang baik hati dan membuat pengalaman pertamaku menjelajahi Central Park terasa jauh lebih berkesan.
Insya Allah, suatu hari nanti aku bisa kembali lagi ke New York City. Kalau Allah mengizinkan dan aku masih diberi kesempatan, aku ingin mencoba mencari dan menemui kembali bapak driver pedicab tersebut. Mungkin beliau sudah tidak mengingatku, karena setiap hari bertemu begitu banyak wisatawan dari berbagai negara. Tapi aku masih mengingat kebaikan dan keramahannya.

Aku ingin mengucapkan terima kasih sekali lagi dan memberikan sebuah hadiah kecil sebagai tanda penghargaan. Karena terkadang, yang membuat sebuah perjalanan begitu berkesan bukanlah tempat-tempat terkenalnya, melainkan orang-orang baik yang Allah pertemukan kepada kita di sepanjang perjalanan.
Semoga Allah selalu menjaga dan memberkahi beliau di mana pun beliau berada saat ini.


Leave a Reply